Vaksin Coronavirus : Kapan Bisa Didapat?

klinikvaksinasi.com – Pada saat wabah coronavirus atau COVID-19 didapuk statusnya menjadi wabah pandemi oleh WHO, sebagian diri saya khawatir, namun sebagian diri yang lain merasa bersemangat. Kenapa? karena selama ini kisah-kisah mengenai pandemi sebelumnya selalu saya dapatkan dari membaca sejarah ;seperti misalnya Black Death, Smallpox, dan Cholera. Khususnya, yang membuat saya bersemangat adalah karena dari setiap kasus pandemi itu, umat manusia selalu bisa bertahan dan menemukan terobosan-terobosan baru terutama dalam bidang kesehatan. Menyaksikan bagaimana kita sebagai umat manusia bisa merespon dan menciptakan temuan-temuan baru terhadap situasi wabah pandemi dengan mata kepala saya sendiri dalam usia yang akan menginjak 30 tahun membuat saya merasa sangat beruntung, ini adalah masa yang bersejarah.

HOTLINE CORONAVIRUS KEMENKES 021-5210411 atau kontak ke nomor 081212123119.


Temuan-temuan Penting Dalam Menghadapi Wabah

Vaksin, yang kita gunakan saat ini untuk mencegah bermacam-macam penyakit, pada awalnya merupakan hasil temuan ilmuwan Edward Jenner dalam usahanya menangani smallpox. Wabah cholera membuat Louis Pasteur dan rekan-rekannya mampu mengembangkan vaksin cholera dan membantu manusia menemukan pentingnya memiliki sistem sanitasi dan pengairan yang baik di wilayah perkotaan; John Snow dari Inggris (bukan yang dari Winterfell ya!) mempelopori hal ini.

Lalu kini pada saat mewabahnya COVID-19, kita sudah merasakan terobosan-terobosan baru dalam mengakali penyebaran virus ini, diantaranya adalah dengan menerapkan strategi karantina yang kini kita kenal dengan istilah physical distancing dan lockdown. Dan saat ini, kabarnya, vaksin COVID-19 tengah dalam pembuatan dan hampir rampung. Lalu kapan kita bisa mendapatkan vaksinnya?

Kapan Kita Bisa Mendapatkan Vaksin Coronavirus?

Sesaat setelah WHO mencanangkan status COVID-19 sebagai wabah pandemi, hampir semua pihak mulai bertanya-tanya mengenai vaksinnya dan para peneliti serta perusahaan yang mumpuni mulai berlomba-lomba dalam mengembangkan vaksin untuk COVID-19.

Salah satu yang saat ini paling cepat perkembangan risetnya adalah Moderna Therapeutics. Perusahaan bioteknologi yang berbasis di Cambridge, Amerika Serikat ini dikabarkan telah mengemas batch pertama dari vaksin COVID-19. Vaksin ini berhasil dibuat tepat 42 hari setelah urutan genetik (genetic sequence) COVID-19 dirilis oleh ilmuwan-ilmuwan Cina pada pertengahan Januari 2020. Vial pertamanya sudah dikirimkan ke National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), yang merupakan bagian dari National Institutes of Health (NIH) di Bethesda, Marryland, Amerika Serikat. Tes manusia untuk vaksin ini akan dilakukan pada bulan April nanti.

Ini merupakan sebuah hal yang menarik, karena pada umumnya vaksin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diriset sebelum bisa rampung. Ternyata pembuatan vaksin ini adalah sebuah terobosan yang relatif baru dalam bidang ilmu genetik yang mana proses produksi vaksinnya tidak mengharuskan para ilmuwan atau produsen vaksin untuk menumbuhkan virus dalam jumlah banyak seperti yang selama ini dilakukan.


Vaksin yang dikembangkan oleh Moderna ini berisi mRNA, yaitu materi genetik yang berasal dari DNA dan membentuk protein. Moderna mengisi vaksinnya dengan mRNA yang membentuk protein coronavirus yang sesuai. Sel imunitas dalam kelenjar getah bening diharapkan dapat memproses mRNA dan mulai membuat protein dalam jumlah yang tepat sehingga sel imunitas mampu mengenalinya dan menandai protein tersebut untuk dihancurkan.

Semua ini kabar baik, namun begitu apakah kita bisa segera mendapatkan vaksinnya setelah ujicoba pertama dilakukan? tidak secepat itu.

Uji klinis vaksin untuk manusia seharusnya dilakukan minimal dalam 3 tahap:

  1. Tahap Pertama melibatkan 10 hingga 100 individu. Pada tahap ini, vaksin diujikan pada orang dengan resiko rendah (biasanya orang dewasa sehat) untuk menguji apakah vaksin tersebut bisa diterima dengan baik pada kelompok ini (tolerability)
  2. Tahap Kedua melibatkan 100 hingga 1000 individu. Pada tahap ini, yang diperhatikan adalah keamanan vaksin, respons imunitas, dan menentukan dosis dan jadwal penyuntikan optimal
  3. Tahap Ketiga melibatkan 1000 hingga 10000 individu. menentukan efektivitas vaksin secara klinis dalam mencegah penyakit dan meneliti informasi keamanan vaksin yang lebih lengkap dari populasi yang lebih heterogen dengan waktu observasi yang lebih lama

Baru setelah ketiga tahap itu selesai dilakukan dan hasil riset lengkap, vaksin masuk ke dalam proses regulasi oleh otoritas untuk mendapatkan persetujuan dan lisensi untuk diedarkan di pasaran.

Ketiga tahap ini penting dalam mendeteksi efek samping apa saja yang dimiliki oleh sebuah vaksin dan terbentuk atau tidaknya antibodi yang diharapkan. Ini merupakan regulasi yang seharusnya tidak bisa ditawar. Saat ini belum diketahui berapa lama waktu yang masih kita butuhkan dalam menunggu vaksin COVID-19 ini selesai melewati ketiga tahap tersebut, setahun? dua tahun? Bisa jadi juga jumlah penderita dari COVID-19 sudah menurun pada saat vaksinnya selesai dan siap dipasarkan. Namun hingga saat itu tiba, kita harus tetap melakukan apa yang sudah kita lakukan sejauh ini untuk memutus rangkaian penularan virus tersebut. Jaga kebersihan dan jaga kesehatan; cuci tangan dan hindari keramaian jika tidak mendesak.

HOTLINE CORONAVIRUS KEMENKES 021-5210411 atau kontak ke nomor 081212123119.

Author Info

No Comments

Post a Comment

1 × one =