Persiapkan Kesehatan Sebelum Berangkat Studi ke Amerika Serikat

image002Dewasa ini, menimba ilmu di luar negeri merupakan salah satu kebanggan tersendiri. Selain bisa belajar di negeri orang, pelajar juga bisa mendapat pengalaman hidup di Negara asing. Tidak hanya itu saja, pelajar juga bisa mendapatkan koneksi di luar negeri. Beberapa Negara di barat menjadi tujuan favorit pelajar Indonesia untuk studi di luar negeri. Salah satunya adalah Amerika. Tidak sedikit kampus ternama ada di Amerika, mulai dari Massachusetts Institute of Technology, Cambridge University, hingga University of Chicago.

Untuk bisa menimba ilmu di Amerika, tentu beragam persiapan harus dilakukan pelajar. Selain masalah bahasa, pemerintah Amerika juga menuntut para kandidat untuk sehat sebelum menapakkan kaki di negeri paman Sam. Para pelajar Indonesia yang diterima untuk studi ke luar negeri harus mengikuti sejumlah imunisasi. Berikut 5 jenis imunisasi yang sering diminta bagi Anda yang ingin studi di Amerika;

  1. MMR

MMR merupakan kepanjangan dari Measles, Mumps, dan Rubella. Imunisasi ini berguna untuk mencegah tiga penyakit, yakni campak, gondongan, dan campak jerman. Meskipun sama-sama berasal dari virus dan menular, ketiga penyakit ini mempunyai dampak berbeda-beda. Campakatau mumps merupakan penyakit yang menyebabkan seseorang terkena demam, batuk, hingga bintik-bintik merah pada tubuh. Penyakit inihidup di hidung dan tenggorokan seseorang yang terinfeksi. Virus ini menyebar saat penderita batuk dan bersin. Campak berbahaya karena mereka bisa hidup selama 2 jam di lingkungan lewat udara dan bisa juga menular lewat sentuhan badan seperti saat Anda mengucek mata, hidung, atau mulut. Orang yang menderita campak akan mengalami gejala awal campak seperti demam, batuk, pilek, atau mata berkunang, dua hingga tiga hari kemudian tubuh penderita akan muncul bintik putih di dalam mulut. Kemudian, badan pun langsung mengalami bintik-bintik merah diikutin dengan panas tubuh mencapai 104 derajat Fahrenheit. Apabila tidak ditangani cepat, penyakit ini bisa meyebabkan komplikasi sehingga Anda, terutama anak-anak, terserang penyakit lebih serius seperti diare, tuli, mengalami pneumonia (penyakit paru-paru), encephalitis (pembengkakan otak), hingga kematian.

Kedua adalah Rubella atau Campak Jerman. Campak Jermanadalah penyakit lain yang mirip layaknya campak, yakni menyebabkan sesoerang menderita batuk, demam, serta bintik-bintik di tubuh.Campak Jerman juga menyebar layaknya cacar, yakni saat seorang penderita batuk-batuk atau bersin. Perbedaan yang sangat signifikan dapat terlihat bagi ibu hamil. Campak jerman dapat langsung menyerang kandungansehingga menyebabkan bayi dalam kandungan mengalami penyakit campak jerman sejak dini (congenital rubella syndrome). Anak yang menderita congenital rubella syndrome akan mengalami gangguan pendengaran permanen (tuli), katarak, gangguan pigmen di lingkaran retina, meningoencephalitis, serta menderita penyakit kuning.

Gejala penderita campak jerman bisa beragam. Penderita campak akan mempunyai bintik merah pada bagian tubuh. Bintik-bintik ini kemudian menyebar ke muka hingga seluruh tubuh dalam jangka waktu sekiar 3 hari. Pada hari kelima, ada sejumlah penyakit lain yang akan ikut selain bintik merah seperti demam, sakit kepala, mata berwarna merah, tidak nyaman, pembengkakan kelenjar getah bening, batuk, dan pilek. Penderita campak anak pun berbeda dengan dewasa. Penderita campak anak umumnya tidak mudah terlihat dibandingkan dewasa. Selain itu, tidak tertutup pula gejala di atas tidak ditemukan saat seseorang menderita campak. Apabila tidak ditangani secara serius, campak jerman bisa mengakibatkan penderita mengalami masalah kesehatan, kebutaan maupun tuli, masalah liver, dan kerusakan kerusakan intelektual. Anak juga bisa mengidap

Terakhir adalah gondongan atau mumps. Gondonganadalah penyakit yang menyebabkan Anda mengalami pipi kembung dan pembengkakan di sekitar kelenjar parotis yang berlokasi di bawah telinga. Virus ini menyebar lewat medium liur atau ludah yang berasal dari hidung, mulut, atau tenggorokan saat seseorang batuk-batu, bersin, atau saat berbicara. Selain itu, virus ini juga bisa menyebar apabila Anda bertukar barang pribadi seperti gelas atau alat makanan. Orang yang tidak mencuci tangan pun bisa terserang gondongan.

Umumnya, gejala penderita gondongan diawali dengan sejumlah penyakit. Mereka akan mengalami pusing-pusing, demam, mudah lelah, kehilangan nafsu makan, hingga mengalami parotitis atau pembengkakan di kelenjar ludah baik sisi kiri maupun sisi kanan pipi. Gejala gondongan akan mulai terlihat dalam kurun waktu 16-18 hari setelah terinfeksi. Namun, lama waktu infeksi bisa mencapai 12-25 hari.

Apabila tidak ditangani secara lanjut, infeksi gondongan bisa menyebabkan Anda mengalami peradangan di otak (encephalitis), meningitis, hingga tuli. Bagi laki-laki, penderita dapat mengalami orchitispada alat kelamin laki-laki saat sudah dewasa, bahkan hingga menyebabkan kemandulan. Perempuan bisa mengalami hal yang lebih parah lain. Selain kerusakan pada ovaries (oophoritis), gondong bisa menyebabkan kerusakan pada payudara (masitis).

  1. Varisela/chickenpox

Cacar air atau Varicella/varisela merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan seseorang mengidap ruam, gatal-gatal, kelelahan, dan demam. Penyakit yang berasal dari virus ini bisa menyebabkan anak menderita congenital varicella syndrome. Penyakit ini muncul apabila sang bunda menderita cacar air saat hamil. Congenital Varicella Syndromesendiri merupakan sebuah situasi yang bisa menyebabkan bayi lahir dalam keadaan menderita cacar. Bayi bisa mengalami permasalahan kulit, berat badan tidak sehat, dan mengalami abnormal limpa, otak, dan mata.

Umumnya, penderita cacar air akan mengalami gejala demam, kelelahan, kehilangan selera makan, dan sakit kepala selama sehari atau dua hari setelah terserang virus varisela. Bunda perlu mendapat atensi khusus apabila Anda sudah sakit demam lebih dari 4 hari dengan suhu 38,9 ° C, mulai sulit bangun, kesulitan berjalan, leher kaku, sering muntah, sulit bernafas, batuk yang parah, sakit perut parah, hingga ruam dengan perdarahan. Apabila muncul ruam dan mulai menyebar ke seluruh tubuh, segera lakukan pemeriksaan, apalagi jika ruam mulai bernanah.Apabila terlambat ditangani, tidak hanya bisa mengalami pneumonia, pendarahan, dan yang paling parah bisa terjadi kerusakan otak.

  1. DPT

Imunisasi yang Imunisasi DPT diberikan dalam rangka mencegah penyakit Difteri, Tetanus, dan Pertusis. Di beberapa Negara bagian, penyakit ini dainggap berbahaya lantaran menular dan menyebabkan kematian. Mengapa difteri, tetanus, dan pertusis menjadi sorotan di Amerika?

Difteriadalah penyakit yang berasal dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Bakteri menimbulkan selaput tebal di bagian belakang tenggorokan. Difteri dapat merusak kinerja organ tubuh seperti jantung, ginjal, dan saraf. Seseorang yang terserang difteri akan mudah lelah, sakit tenggorokan, demam, dan pembengkakan kelenjar di leher. Apabila tidak ditangani lebih serius, difteri bisa menyebabkan anak pneuomia, kesulitan bernapas, gagal jantung, kelumpuhan, dan bahkan kematian.

Difteri juga tergolong sebagai penyakit yang sangat menular. Umumnya, penularan penyakit ini berlangsung dari orang ke orang melalui batuk atau bersin. Bahkan, seseorang bisa terserang difteri apabila menyentuh luka terbuka (lesi kulit) atau pakaian yang menyentuh luka terbuka dari seseorang yang sakit difteri. Tidak hanya bersin dan luka, seseorang juga bisa terserang difteri sambil berhubungan dengan objek, seperti mainan, yang mengandung difteri.

Lain lagi dengan Tetanus. Tetanus merupakan penyakit yang berasal dari bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini mengeluarkan sejumlah racun yang membuat seseorangmengalami kejang otot di bagian tubuh, terutama di bagian rahang dan leher. Tetanus juga tergolong sebagai penyakit menular karena virus ini ada di tanah. Umumnya, penyakit ini baru menular pada manusia lewat medium luka, terutama luka yang terkontaminasi kotoran, liur, luka bekas tusukan, atau luka bakar, cedera tabrakan, hingga cedera yang berakhir dengan kematian syaraf tertentu. Selain itu, Tetanus bisa juga menyerang lewat luka hasil bedah, infeksi gigi, dan patah tulang.

Tetanus berkembang secara variatif. Biasanya, tetanus mulai berkembang selama 3-21 hari (rata-rata 10 hari), meskipun mungkin berkisar dari 1 hari untuk beberapa bulan, tergantung pada jenis luka. Kebanyakan kasus terjadi dalam waktu 14 hari. Secara umum, masa inkubasi yang lebih pendek terlihat dengan luka yang lebih berat terkontaminasi, penyakit yang lebih berat, dan hasil yang lebih buruk dari penyakit (prognosis). Apabila tidak ditangani dengan baik, tetanus bisa menyebabkan sakit kepala, rahang keram, kejang otot, pegal-pegal, sulit menelan, demam, hingga tekanan tinggi dalam darah. Yang lebih parah, tetanus bisa menyebabkan patah tulang, kehilangan suara, penyumbatan paru-paru, sampai infeksi paru-paru (pneumonia) dan kematian akibat tidak bisa bernafas.

Terakhir, pertusis adalah penyakit yang membuat seseorang batuk secara terus menerus hingga jangka waktu tertentu. Pertusis lebih dikenal dengan istilah batuk rejan. Penyakit ini disebabkan bakteri yang disebut Bordetella Pertussis. Bakteri ini menempel pada silia, yakni rambut halus pada tenggorokan. Silia berfungsi untuk menggerakkan dahak ke atas sehingga dahak dapat keluar. Saat masuk ke dalam tubuh, pertussis mengeluarkan toksin (racun), yang merusak silia dan menyebabkan saluran udara membengkak dan akhirnya orang batuk rejan.Orang dengan pertusis biasanya menyebarkan penyakit ke orang lain melalui batuk atau bersin. Selain bersin, pertusis bisa menular saat Anda berdekatan atau berada dalam satu ruangan dengan orang yang terserang pertussis. Tidak sedikit anak terserang pertussis terinfeksi karena kakak, orang tua, atau pengasuh yang mungkin tidak tahu bahwa mereka memiliki penyakit. Umumnya, orang yang terinfeksi pertusis akan mudah menularkan penyakitnya dalam waktu 2 minggu.

Penyakit pertusis sangat berbahaya bagi mereka yang tidak imunisasi. Penyakit ini akan terus menyerang anak apabila tidak divaksin. Pertusis dapat dicegah dengan imunisasi. Orang yang terimunisasi pun kecil kemungkinan terserang pertusis.

  1. Hepatitis A dan Hepatitis B

Hepatitis merupakan penyakit yang juga tengah dicegah di Amerika. Penyakit yang menyebabkan peradangan hati ini merupakan salah satu penyakit menular lewat beragam medium, baik makanan hingga hubungan seksual. Di Amerika sendiri, Hepatitis menjadi salah satu penyakit berbahaya. Di Amerika, saat ini 75 persen penderita hepatitis, terutama hepatitis B cukup tinggi. Selain itu, pemerintah Amerika juga memperhatikan masyarakat dari Asia, Afrika, serta daerah Pasifik demi mengurangi penderita Hepatitis A dan B. Lalu, mengapa penyakit ini harus dicegah?

Penyakit Hepatitis A merupakan varian hepatitis. Penyakit yang berasal dari Virus Hepatitis A (HAV) ini umumnya menular saat seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi HAV. Makanan yang terkontaminasi umumnya adalah tidak diolah dengan baik, yakni atau tidak bersih. Penderita Hepatitis A biasanya mengalami gejala demam, kelelahan, kehilangan nafsu makan, hingga muntah-muntah.

Hepatitis B sedikit berbeda dengan Hepatitis A. Penyakit Hepatitis B merupakan varian hepatitis yang perlu diwaspadai. Penyakit yang berasal dari virus hepatitis B ini tidak sekadar menyebabkan gangguan peradangan hati, tetapi bisa menjadi penyebab penyakit lain dan bisa diwariskan kepada calon anak. Hingga saat ini, di Indonesia, hepatitis B dan C merupakan penyakit dengan tingkat penyebaran cukup tinggi. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan, sekitar 10 dari 100 orang Indonesia yang ingin mendonorkan menderita Hepatitis B atau C. Dengan kata lain, sekitar 28 juta penduduk Indonesia terinfeksi Hepatitis B dan Hepatitis C. Yang lebih miris lagi, setengah, sekitar 14 juta, berpotensi kronis.

Sampai saat ini, Hepatitis B menyebar menyebar lewat cairan seperti darah, air mani, atau cairan lain dari penderita ke orang lain. Medium penyebarannya pun beragam, mulai dari alat suntik, hubungan seksual, hingga infeksi sejak lahir. Penderita Hepatitis B akan mengalami sejumlah gejala sebelum menderita Hepatitis B. Umumnya, penderita akan mudah lelah, kehilangan selera makan, mual, muntah, sakit perut, cairan urin dan buang air besar gelap, nyeri sendi, hingga terserang penyakit kuning.

Hepatitis B sangat lah berbahaya bagi ibu hamil. Bayi dalam kandungan bisa terserang Hepatitis B apabila ibu menderita Hepatitis. Penyakit ini memang tidak akan langsung terlihat saat anak lahir, tetapi 90% bayi yang lahir dengan penyakit Hepatitis B berpotensi menderita Hepatitis B kronik. Hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk kerusakan hati, kanker hati, dan bahkan kematian.

  1. Meningitis

Meningitis merupakan salah satu penyakit menular akibat sejumlah bakteri yang hinggap di sekitar membran pelindung otak dan sum-sum tulang belakang. Meningitis menjadi sangat berbahaya karena penyakit ini bisa membuat Anda mengalami kerusakan otak, cacat, dan tuli. Bahkan, tidak sedikit masyarakat meninggal akibat meningitis. Bakteri pembawa Meningitis bisa menyebar secara mandiri atau dengan virus lain seperti cacar, flu, hingga herpes. Umumnya, penderita meningitis akan mengalami gejala pusing-pusing, demam, sensitif dengan matahari, muntah-muntah, dan lemas.

Di beberapa Negara bagian, meningitis menjadi salah satu penyakit yang dicegah, terutama di daerah panas. Untuk itu, Anda perlu melakukan imunisasi meningitis agar terhindar dari penyakit meningitis.

Nah, kelima imunisasi tersebut bisa Anda peroleh kok di Indonesia. Anda bisa menghubungi kami di In Harmony Clinic, Jl Percetakan Negara IV B No 48 Jakarta Pusat Telp 021 422 0214 / 021 4248790 atau Pin BB 2A907EDA / 748E 00E1. Anda bisa berkonsultasi tentang harga hingga berapa kali untuk imunisasi. Semoga Anda focus da tenang menimba ilmu di Negara Paman Sam setelah melakukan imunisasi di In Harmony Clinic.

Author Info

admin

No Comments

Post a Comment