Kontroversi dibalik Pemberian Vaksin Pneumonia di Usia Dewasa

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa pasien usia lanjut di rumah sakit dengan masalah pneumonia (radang paru-paru) memiliki peningkatan risiko serangan jantung, stroke atau kematian akibat penyakit jantung. Penelitian yang dilakukan professor kardiologi dari University of California, Dr. Gregg Fonarow menunjukkan hasil yang cukup kontroversial namun layak untuk mendapatkan perhatian.

Seperti yang dilansir oleh Reuters, penelitian tersebut menunjukkan hubungan erat antara Pneumonia dan risiko penyakit jantung, stroke yang berujung pada kematian mendadak. Pneumonia mempengaruhi 12 persen dari populasi di belahan bumi bagian utara setiap tahunnya, menjadikan Pneumonia menjadi salah satu penyakit yang membunuh manusia setiap tahunnya secara tidak langsung.

Pneumonia yang di Indonesia dikenal dengan sebutan radang paru-paru ini adalah penyakit paru-menyerang paru-paru sehingga paru-paru terisi cairan lender bercampur kuman. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit. Dalam beberapa kasus pneumonia, kemungkinan disebabkan oleh iritasi zat-zat kimia atau cedera fisik dalam paru-paru, atau dapat disebabkan oleh efek dari penyakit ;ainnya seperti kanker paru-paru. Pneumonia di usia dewasa juga mampu disebabkan oleh penerapan gaya hidup yang kurang sehat seperti konsumsi alkohol yang berlebihan dan merokok.

Pemberian vaksin pneumonia di usia dewasa jarang dilakukan di Indonesia, padahal pemberian vaksin ini sangat membantu mencegah risiko penyakit serangan jantung dan stroke. Masihkah vaksin ini diberikan? Menurut dr Sudarsono SpP(K) sebenarnya pemberian vaksin pneumonia tidaklah menjadi keharusan bagi orang dewasa. “Memang ada beberapa kalangan yang berisiko tinggi terkena penyakit itu. Misalnya, tenaga medis. Namun, penyebaran penyakit tersebut dapat diminimalkan asal bisa melindungi diri sendiri,” papar spesialis penyakit paru-paru dari RSUD dr. Soetomo.

Sedangkan di negera lain seperti Amerika Serikat telah mengambil jalan pencegahan untuk menangani penyakit pneumonia. Amerika Serikat dan WHO menyarankan Pneumococcal Polysaccharide Vaccine (PPSV atau PPV) diberikan pada orang dewasa berusia 65 tahun ke atas, dewasa dengan gangguan kesehatan jangka panjang yang berat, perokok, dan anak berusia lebih dari 2 tahun dengan gangguan kesehat­an yang berat.

Tentu saja vaksin ini memberikan perlindungan 3-5 tahun, berarti kesempatan hidup Anda akan meningkat sekitar 3-5 tahun ke depan. Vaksin ini perlu diadakan setiap diulang 3-5 tahun sekali demi hasil terbaik.

Figur-figur dunia yang meninggal karena Pneumonia

Siapapun bisa menderita pneumonia, penyakit memang tidak mengenal status, usia, atau popularitas. Berikut ini beberapa figure terkenal di dunia yang meninggal karena pneumonia, memperlihatkan betapa berbahayanya penyakit ini.

Britanny Murphy (1971-2009)      

image002

Britanny Murphy meninggal pada usia 32 tahun, aktris yang tampil dalam sejumlah film komedi ini dinyatakan meninggal setelah sebelumnya dilarikan ke rumah sakit pada 20 Desember 2009. Menurut hasil autopsi dari Los Angeles County Coroner, kematiannya disebabkan pneumonia dan kemudian disusul dengan faktor-faktor sekunder seperti anemia dan keracunan obat. Saat itu Brittany baru ebrusia 32 tahun.

Lee Kuan Yew (1923-2015)

image003

Lee Kuan Yew dikenal sebagai arsitek dibalik kemajuan negara Singapura sekaligus mantan Perdana Menteri Singapura. Lee Kuan Yew (91) meninggal dunia di Singapore General Hospital pada Senin (23/3/2015) pukul 03.18 waktu setempat karena pneumonia setelah sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit General Hospital Singapura.

Leo Tolstoy (1828-1910)

image006

Leo Tolstoy adalah salah satu sastrawan asal Rusia yang melegenda. Peace and War dan Anna Karenina merupakan karyanya yang dikenal dan dicintai oleh banyak orang. Tolstoy juga meninggal karena pneumonia pada usia 82 tahun di Rusia.

Author Info

admin

No Comments

Comments are closed.

error: Content is protected !!