Ingin Studi ke Jepang? Waspada Penyakit Japanese Encephalitis

Dewasa ini, studi ke Jepang menjadi salah satu pilihan bagi Anda yang haus akan ilmu. Selain menempuh pendidikan, Anda juga bisa mendapatkan beragam hiburan selama tinggal di negeri sakura. Beragam film animasi hingga makanan unik bisa Anda nikmati saat Anda menimba ilmu di sana. Beragam teknologi pun bisa Anda temui saat Anda studi di Jepang.

Meskipun penuh dengan kemudahan dan hal-hal yang menyenangkan, kesehatan selama studi di Jepang perlu Anda perhatikan. Sejumlah penyakit menular bisa mengganggu Anda selama menempuh pendidikan di negeri sakura. Salah satu penyakit yang paling menakutkan adalah Japanese Encephalitis Japanese Encephalitis adalah penyakit zoonosis yang dapat menyebabkan terjadinya radang otak pada hewan dan manusia. Penyakit ini bersifat arbovirus, yakni penyakit berjenis virus dan menular pada manusia lewat melalui gigitan hewan. Hingga saat ini, hampir Negara-negara di Asia Timur seperti Jepang dan Korea serta Asia Tenggara seperti Indonesia merupakan daerah yang rentan tertular Japanese Encephalitis.

Japanese Encephalitis merupakan penyakit yang menghanyutkan, tetapi bisa mematikan. Para penderita baru merasakan dampak virus Japanese Encephalitis selama 5-15 hari setelah tertular penyakit. Umumnya, akan ada tiga fase saat seseorang menderita Japanese Encephalitis. Pertama, stadium prodromal yang berlangsung selama 2 – 4 hari. Hal ini dimulai dengan dengan panas yang mendadak, sakit kepala berat yang terkadang disertai keluhan mual dan muntah. Selanjutnya stadium akut selama 4 – 7 hari. Pada stadium ini panas tetap tinggi dan tidak mudah diturunkan dengan obat penurun panas. Akan terjadi kekakuan otot terutama pada otot leher. Pada kasus yang lebih kronis kemungkinan dapat terjadi gangguan keseimbangan, kejang-kejang serta penurunan kesadaran mulai dari gelisah-mengantuk sampai koma (tidak sadar). Ketiga, stadium konvalesen atau tahap akhir. Stadium ini dimulai pada saat suhu tubuh kembali normal. Tanda-tanda neurologis bisa menetap atau cenderung membaik.

Apabila Anda sudah menderita stadium pertama Japanese Encephalitis, Anda sebaiknya segera melakukan pengobatan. Jika tidak, Anda bisa mengalami masalah syaraf, kecerdasan, hingga tidak bisa beraktivitas dengan baik. Selain itu, Anda juga bisa menderita gangguan mental berupa emosi tidak stabil, lambat berbicara, perubahan kepribadian dan lumpuh pada beberapa bagian tubuh.

Untuk mencegah penyakit Japanese Encephalitis, Anda harus menghindari diri dari gigitan nyamuk culex. Nyamuk ini. Nyamuk ini menggigit manusia menjelang malam hari pada malam hari hingga keesokan harinya. Oleh karena itu, Anda disarankan menggunakan kelambu saat hendak tidur. Selain itu, gunakan pula repellen dalam bentuk cairan/krim atau memakai obat pembasmi nyamuk dalam bentuk gulungan yang menghasilkan asap.

Namun, cara lain yang lebih efektif agar Anda bisa terhindar penyakit dengan imunisasi. Vaksin Japanese Encephalitis yang sudah dipatenkan telah tersedia untuk melindungi manusia dari Japanese EncephalitisIXIARO telah disetujui pada Maret 2009 untuk digunakan pada orang dewasa, mereka yang berusia 17 tahun ke atas kini mendapatkan proteksi dari IXIARO . Sejak Mei 2013 dapat  digunakan pada anak-anak berusia 2 bulan -16 tahun.  IXIARO diberikan sebagai rangkaian dua dosis , dengan dosis yamg berjarak 28 hari . Untuk mereka yang berusia 17 tahun keatas , dosis penguat dapat diberikan jika seseorang telah menerima melakukan vaksinasi kedua dosis  setahun sebelumnya. Selain IXIARO, Anda bisa imunisasi dengan vaksin Imojev. Imojev bisa diberikan kepada setiap orang minimal umur 9 tahun. Imojev mampu melindungi anak-anak dari Japanese Encephalitis setelah 4 minggu pasca imunisasi. Sementara itu, Imojev mampu mencegah dewasa tertular Japanese Encephalitis sekitar 2 minggu setelah imunisasi. Akan tetapi, IMOJEV tidak akan mencegah Japanese Encephalitis jika Anda atau anak Anda inkubasi penyakit sebelum vaksinasi atau jika ensefalitis yang disebabkan oleh virus lain.

 

Author Info

admin

No Comments

Post a Comment