4 Hal tentang Japanese Encephalitis yang Perlu Anda Ketahui

Tidak banyak yang diketahui mengenai penyakit ini di Indonesia. Kasusnya juga masih terbilang jarang muncul dibandingkan dengan virus yang disebarkan melalui gigitan nyamuk lain seperti Demam Berdarah. Meski begitu, sejauh ini telah diketahui bahwa jenis virus yang menyebabkan Japanese Encephalitis (JE) masih satu genus dengan virus penyebab Demam Berdarah, Demam Kuning, dan Malaria.

Encephalitis sendiri berarti peradangan otak akut. Artinya peradangan yang muncul pada otak terjadi secara cepat dan gejalanya langsung parah (tidak seperti penyakit kronis yang menunggu waktu lama hingga sampai pada gejala klimaks).

Perlu Anda ketahui bahwa Encephalitis tidak hanya bisa disebabkan oleh virus Japanese Encephalitis, namun bisa juga disebabkan oleh pathogen lain seperti misalnya virus Polio, Campak, dan Rabies. Selain itu infeksi bakteri tertentu bisa juga menyebabkan penyakit ini diantaranya adalah infeksi bakteri meningococcus (bakteri penyebab meningitis).  Yang mana semua paparan dari virus dan bakteri tersebut bisa dicegah dengan vaksinasi/imunisasi. Vaksinasi Japanese Encephalitis untuk anak sudah bisa diberikan pada anak usia 1 tahun.

Jangan tunggu terjangkit, upayakan pencegahannya mulai dari sekarang.

Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda pahami mengenai penyakit Japanese Encephalitis, termasuk cara-cara pencegahannya :

 

  1. Gejala
  • Kurang dari 1% jumlah orang yang terjangkit Japanese Encephalitis akan menunjukan gejala klinis
  • Bagi orang yang memiliki gejalanya, masa inkubasi virus biasanya adalah 5-15 hari.
  • Gejala yang dapat muncul biasanya adalah demam, sakit kepala, serta muntah-muntah.
  • Perubahan kondisi mental, gejala neurologis (yang berhubungan dengan syaraf seperti : lumpuh pada sebagian atau seluruh tubuh, otot lemah, hilang kemampuan merasa/mengecap, kesulitan membaca & menulis, kejang, dan tidak bisa berkonsentrasi), dan letih mungkin terjadi beberapa hari setelah terjangkit.
  • Gejala kejang-kejang umum dijumpai pada anak kecil yang terjangkit

 

 

  1. Perawatan
  • Saat ini tidak ada perawatan yang diketahui bisa mendukung pasien dengan JE secara spesifik, namun perawatan secara langsung dan intensif oleh dokter dan dukungan moril secara terus menerus oleh keluarga sangat dibutuhkan
  • Perawatan yang diberikan biasanya simptomatis. Artinya, perawatannya diberikan untuk meredakan gejala, bukan memusnahkan  penyebab penyakit tersebut.

 

  1. Dampak
  • Sekitar 20%-30% kasus Japanese Encephalitis berakibat fatal
  • Meski setelah kondisi akut gejalanya mereda, 30%-50% pasien yang selamat dari infeksi virus ini masih akan menunjukan gejala-gejala neurologis, kognitif (seperti misalnya, namun tidak terbatas pada : Dementia, Delusi, dan Delirium), dan kejiwaan.

 

  1. Pencegahan
  • Kenakan lotion atau obat penangkal nyamuk. Terutama saat Anda keluar untuk mengurangi resiko terpapar virus penyebab Japanese Encephalitis. Ingat, virus ini menyebar melalui gigitan nyamuk.
  • Kenakan pakaian tertutup. Untuk mengurangi kemungkinan terigigit nyamuk penyebab Japanese Encephalitis, kenakan baju lengan panjang dan celana panjang saat hendak bepergian ke luar rumah.
  • Kurangi aktivitas luar ruangan saat petang-malam hari. Nyamuk Culex, penyebar virus Japanese Encephalitis ini umumnya berkeliaran saat malam hari. Jika memungkinkan, tetaplah berada di dalam ruangan saat menjelang malam hingga pagi hari.
  • Vaksinasi. Meskipun belum ada obat khusus untuk mengobati penyakit ini, Japanese Encephalitis bisa dicegah paparannya dengan vaksinasi.

Author Info

admin

No Comments

Post a Comment

1 × 3 =